Sabtu, 23 Agustus 2008

BAU BAU pulau BUTON SULAWESI TENGGARA


MENYEBERANG LAUT DARI KENDARI KE BAU BAU MENIKMATI SENSASI ALAM DAN BUDAYA
("edited version" telah dimuat di harian umum Suara Merdeka edisi Minggu tgl 24 Agustus 2008 hal 31).
Oleh:Gagoek Hardiman

Kota Kendari sebagai ibu kota propinsi Sulawesi Tenggara telah berkemas diri dalam menyongsong pembangunan agar dapat sejajar dengan ibu kota propinsi lain di Indonesia.


Usaha tersebut telah nampak dengan dibangunnya Bandar Udara Wolter Monginsidi Kendari. Untuk mempercantik kota telah dibangun pula ”Menara Persatuan” yang sangat anggun berdiri tegak di tengah kota, berfungsi sebagai landmark atau tetenger kota Kendari.

Mengunjungi Propinsi Sulawesi Tenggara belumlah lengkap kalau tidak menyeberang laut menggunakan kapal jet untuk menengok kota pelabuhan Bau Bau di ujung selatan pulau Buton, mengunjungi kerajaan Buton dalam benteng yang menurut MURI (museum rekor Indonesia) merupakan benteng terluas di dunia.
Dari lokasi kerajaan dan Benteng di atas bukit, nampak panorama kota dan pelabuhan seta panorama hutan suaka marga satwa dan cagar alam Lambu Sango sebagai paru-paru dunia yang indah, alami dan menawan hati.

Kendari Ibu Kota Sulawesi Tenggara.
Apabila mengunjungi kota Kendari melalui perjalanan udara kedatangan kita akan disambut oleh bandar udara bercorak arsitektur modern yang dibangun pada tahun 2005. Bandara tersebut diresmikan pada bulan Juli 2006 oleh wapres Yusuf Kalla. Jarak dari bandara ke pusat kota Kendari adalah 60 km melalui jalan yang relatif lebar dan baik, namun kiri kanan jalan sebagaian besar masih berupa lahan kosong.
Konsep pembangunan kota Kendari dititik beratkan pada pembangunan prasarana jalan sebagai jaringan transportasi yang diharapkan akan memacu pertumbuhan kota secara merata. Demikian pula bangunan kantor Gubernur Sulawesi Tenggara di jl. Martandu yang sangat megah, juga terletak relatif jauh dari pusat kota, lahan di kiri dan kanan jalan sebagaian besar masih kosong.
Kota Kendari memang sedang dalam proses mempersiapkan pembangunan di segala bidang, tentu saja untuk membangun diperlukan dana antara lain dari pajak, hal itu tercermin dari kalimat dalam dialek Tolaki yang terpampang di berbagai penjuru kota: ”Lamo ikolupei wadai o’simo” yang artinya; Bayarlah pajak tepat pada waktunya. Dengan demikian diharapkan kedepan kota Kendari akan terus membangun dan menjadi semakin cantik dan indah.

Kendari Beach.
Sesuai dengan awal perkembangan kota Kendari yang tumbuh di seputar teluk Kendari maka sampai saat ini aktifitas disekitar teluk yang oleh masyarakat setempat disebut ”Kendari beach” terlihat sangat dinamis, istilah dalam bahasa inggris ”beach” sengaja dipilih dan dipopulerkan oleh masyarakat setempat, mungkin kalau di sebut ”pantai” terdengar kurang ”keren”. ”Kendari beach” merupakan tempat berkumpul dan tempat favorit untuk nongkrong, kencan bagi kaum remaja, serta bersantai bagi keluarga dengan mengajak anak, berolah raga joging di pagi hari, atau menikmati suasana sun set di sore hari, sambil mencicipi buah durian, rambutan atau buah lain yang dijual sepanjang tepi pantai. Pada malam haripun ada beberapa kafe yang buka sampai menjelang pagi hari di seputar Kendari beach.

Menara Persatuan
Dalam rangka Persiapan penyelenggaraan MTQ Nasional ke 21 pada tahun 2006, di tengah kota Kendari dibangun ”Menara Persatuan” yang sangat megah setara dengan ”Menara Keanggunan” di Propinsi Gorontalo. Apabila menara di Gorontalo bentuknya mirip menara Eifel di Paris maka ”Menara Persatuan” di Kendari menurut ketua program study Arsitektur FT Haluoleo Ir. Kurniati MT; mirip menara di kota Shanghai China. Nama menara ”Persatuan” sangat sesuai dengan masyarakat kota Kendari yang multi etnis karena ada beberapa etnis yang hidup rukun berdampingan antara lain: etnis Tolaki, etnis Muna, etnis Buton dsb, masing masing memiliki bahasa daerah yang berlainan.
Bangunan tempat penyelenggaraan MTQ yang terletak dalam satu kawaan dengan menara persatuan juga sangat menarik dan saat ini merupakan bangunan publik yang paling atraktif di kota Kendari secara periodik kawasan ini digunakan untuk pelaksanaan pementasan kesenian, pameran, bazar, upacara dsb.

Kampus Universitas Haluoleo
Kampus baru universitas negeri Haluoleo yang disebut bumi tridarma Anduonohu dibangun pada kawasan yang sangat luas dengan gedung-gedung yang terbilang megah. Gedung Rektorat merupakan bangunan termegah di kampus universitas Haluoleo tersebut, tepat didepan gedung rektorat terdapat plaza atau ruang terbuka. Tugu yang menjulang tinggi dibangun di tengah plaza tersebut, pada bagian puncak Tugu terdapat lambang universitas Haluoleo. Sebagaian kampus semisal kampus Fakultas Teknik masih dalam taraf penyelesaian saat ini FT UNHALU masih beraktivitas di kampus lama di Kemaraya . Kampus bumi tridarma Anduonohu yang terletak di dalam kota Kendari ini nampak tenang indah dan asri dengan konsep kampus hijau karena antar bangunan dipenuhi dengan berbagai pohon terutama pohon jati putih (Gmelina arborea), sangat sesuai untuk aktifitas perkuliahan. Konsep kampus ini sangat tepat mengingat masih banyaknya lahan kosong di kota Kendari. Hanya saja interaksi atau hubungan civitas akademika antar fakultas terkendala olah jarak antar fakultas yang relatif jauh. Sehingga perlu adanya upaya khusus untuk mengatasi permasalahan tersebut.

Perjalanan laut ke Bau Bau
Kalau kita pernah mendengar kalimat: ”Apabila seseorang pergi ke Perancis, belum sempurna kunjungannya kalau belum menikmati kota Paris”. Demikian pula kalau seseorang pergi ke Sulawesi Tenggara tanpa mengunjungi kota Bau Bau di kabupaten Buton maka kunjungannya belum dapat dikatakan lengkap.
Kota Bau Bau terletak di ujung selatan pulau Buton. Dari pelabuhan Kendari ke pelabuhan kota Bau Bau via pelabuhan di kota Raha pulau Muna. Hanya ada 2 route dalam 1 hari, pagi dan sore. Kapal yang tersedia adalah kapal MV Sagori expres dan MV. Super jet 15.
Mengingat jalur perjalanan tersebut sangat padat dianjurkan untuk beli tiket sehari sebelumnya dan sudah siap masuk ke kapal paling lambat satu jam sebelum keberangkatan.

Karena jumlah kursi di Kapal tidak sebanding dengan jumlah calon penumpang, meskipun sudah dilarang olah awak kapal dan polisi/petugas pelabuhan. Tetap saja penumpang memaksa masuk. Tak heran, kapal yang tempat duduknya hanya untuk 200 orang diisi 300 orang yang menjejali lorong di antara tempat duduk. Sehingga kalau selama perjalanan ada yang ingin ke Toilet harus melangkahi penumpang yang memadati lorong dalam kapal. Sebagaian penumpang yang tidak kebagaian tempat dapat duduk di atas kapal. Tentu dengan resiko menahan terik panas matahari dan bersedia basah kuyup bila kehujanan. Karena kalau kita sudah duduk di atap sangat sulit kembali ke ruang dalam kapal yang telah penuh sesak. Di dalam kapal ditempelkan gambar peragaan cara pemakaian ban penolong apabila kapal tenggelam tetapi ban penolongnya justru sangat sulit dijumpai, penumpangpun tidak diberi tahu dimana ban penolong tersebut disimpan.
Duduk diatas atap kapal dengan segenap resikonya, bagi mereka yang ingin menikmati perjalanan sangatlah tepat. Karena dapat menghayati dan mengabadikan panorama yang indah secara leluasa.

Berkat terpaan angin laut, panas terik matahari tidak terasa. Pemandangan laut berupa perpaduan langit dan air laut yang biru jernih terbentang dan bertemu di garis cakrawala Selama perjalanan laut acapkali kapal melewati pulau kecil yang nampak hijau bertebaran bagai batu zamrud dikelilingi pasir putih, panorama nan cantik membuat kita lupa akan panas terik yang membakar kulit.
Dari kejauhan nampak pulau Muna dan pulau Buton yang nampak sangat subur dengan hutan alaminya. Di beberapa tempat nampak perkampungan nelayan dengan keramba ikan dan budidaya rumput laut.

Apabila tidak ada halangan perjalanan dari pelabuhan Kendari sampai pelabuhan Bau Bau memakan waktu 6 jam. Namun mengingingat pemandangan yang indah dan sangat beragam waktu tersebut tidak terasa lama. Sesekali kapal yang kami tumpangi berpapasan dengan kapal sejenis dan beberapa kali melewati perahu nelayan yang jauh lebih kecil, perahu nelayan tersebut terlihat terombang ambing karena ombak yang ditimbulkan olah kapal jet yang melawatinya. Dalam perjalanan laut ini kita akan semakin menyadari bahwa kita memang bangsa Bahari yang sangat akrab dengan laut dengan segala potensi dan resikonya.

Pelabuhan Bau Bau.
Setelah kapal singgah di pelabuhan kota Raha Pulau Muna wilayah Kabupaten Muna untuk menurunkan dan menaikkan penumpang. Kapal meneruskan perjalanan ke selatan menuju pelabuhan Nusantara Bau Bau. Sebelum merapat kepelabuhan nampak kapal- kapal besar baik kapal penumpang maupun kapal Niaga serta kapal nelayan tradisional Pinisi. Pelabuhan Bau Bau merupakan pelabuhan Nusantara, semua kapal penumpang dari Jakarta, Semarang atau Surabaya yang menuju ke Indonesia bagian Timur pasti singgah dulu ke pelabuhan Bau Bau pulau Buton wilayah kabupaten Buton.

Pelabuhan Penumpang dan Niaga Bau Bau berdampingan letaknya dengan pantai Kamali kebanggaan kota Bau Bau yang sangat atraktif dan artistik. Pantai ini merupakan hasil reklamasi atau pengurugan laut yang diremikan pembukaannya pada tgl 18 Agustus 2005 oleh gubernur Sulawesi Tenggara Bp. Ali Mazi SH. Saat ini merupakan public space atau kawasan publik yang paling ramai di kota Bau Bau merupakan magnet yang menarik dan sangat diminati oleh segenap masyarakat untuk melaksanakan berbagai aktifitas rekreasi di kawasan pantai terutama pagi, sore dan senja hari. Pembangunan tempat rekreasi di pantai tersebut suatu usaha yang sesuai dengan konsep water front city dengan menciptakan perpaduan atau sinergi yang indah dan harmonis antara daerah laut dan daratan. Pembangunan ruang terbuka untuk umum di pantai Kamali sesuai dengan jargon kota Bau Bau yang terpampang di beberapa lokasi, dalam dialek Buton: ”Boloma karo Sumanomo Lipu” yang artinya ”mendahulukan kepentingan umum di atas kepentingan pribadi”.

Pada kawasan pantai Kamali sering ditampilkan partunjukan musik dengan mendatangkan band terkemuka Indonesia. Kalau di Singapura wisatawan yang datang dari arah laut disambut patung ”Meerlion” berwujud ikan berkepala singa dan wisatawan yang datang ke Tenggarong Kalimantan timur disambut patung ”Lembuswana” berwujud lembu berkepala naga berukuran raksaksa. Maka di pantai Kamali Bau Bau kita akan disambut oleh patung Naga raksaksa yang nampak berwibawa dan megah patung tersebut akan semakin menarik di waktu senja atau malam hari karena mulut yang menyemburkan air menjadi merah menyala dan tubuhnya nampak indah oleh sorot lampu yang menambah pesona patung tersebut.

Berbagai atraksi yang dapat dinikmati di kawasan pantai Bau Bau antara lain; Menikmati aneka gorengan seperti: pisang, ubi, ketela, sukun sambil minum Saraba (wedang jahe campur susu) dan dihibur oleh live music dari pengamen yang berkeliling dari meja ke meja. Sayang bagi pengunjung suku Jawa tentu agak kecewa karena tidak ada yang menjual Tempe dan Tahu goreng. Apabila kita sudah terbiasa makan dengan menu karbohidrat nasi, maka di Kendari atau di Bau Bau kita seyogyanya mencoba makanan khas masyarakat setempat Kasoami atau Sinonggi sebagai sumber karbohidrat pengganti nasi. Kasoami dibuat dari parutan Ketela dan disajikan dalam bentuk kerucut disamping itu bisa juga kita memesan Sinonggi dari Sagu yang dituang air panas, pada beberapa tempat di Indonesia Timur Sinonggi disebut Papeda. Baik Kasoami maupun Sinonggi dihidangkan bersama lauk aneka ikan bakar atau Kambatu Tawaoloho (masakan khas Tolaki berupa daging sapi masak tomat) dengan sambal pedas.

Lapak-lapak kaki lima juga tertata rapi di pinggir kawasan, menawarkan VCD, pakaian, arloji dsb. Sarana permainan anakpun tersedia misal ayunan dsb. Tanaman peneduh yang mendominir pantai Kamali adalah pohon kelapa (Cocos nucivera).
Pemandangan yang cukup unik antara lain anak anak kecil yang beramai ramai berenang di laut dengan tangkas, riang gembira dan terkesan sangat akrab dengan alam.
Apabila kocek kita cukup tebal dari Bau Bau dengan kapal Jet khusus, wisatawan dapat mengunjungi obyek wisata alam bertaraf Internasional di pulau-pulau kecil di kabupaten Wakatobi Propinsi Sulawesi Tenggara, sekitar 125 km dari pelabuhan Bau Bau ke arah timur.






ARTIKEL PENDAMPING

BENTENG KERAJAAN – KESULTANAN BUTON

Sesuai informasi pada baliho dengan ukuran besar yang menyambut kita selepas keluar dari bangunan Terminal pelabuhan laut Bau Bau, akan terbaca kalimat: Selamat datang di Bau Bau, kota dengan benteng terluas di dunia, luas 22,8 ha, panjang keliling 2740 m dibangun pada masa pemerintahan Sultan ke 3, La sangaji. Pada bagian bawah Baliho tertera catatan: Rekor MURI- Museum Rekor Indonesia. Apakah pernyataan tersebut benar adanya, kita harus membandingkan dengan benteng2 lain di seluruh dunia. Tetapi kalau dibandingkan dengan benteng2 di beberapa tempat di pulau Sulawesi seperti benteng Otanaha di Gorontalo, benteng di Donggala Sulawesi tengah, benteng di Makassar Sulawesi Selatan. Jelas benteng di Bau Bau jauh lebih luas. Benteng terletak di lokasi tertinggi kota Bau Bau, dari benteng ke arah barat nampak dengan jelas panorama kota dan pelabuhan Bau Bau, ke arah timur terlihat kawasan hutan yang terbentang luas, merupakan bagian dari hutan suaka margasatwa dan cagar alam Lambusango yang berperan sebagai paru paru dunia.

Benteng yang mengelilingan areal yang sangat luas ini dilengkapi dengan beberapa meriam, untuk melindungi kerajaan buton dari kemungkinan adanya serangan musuh yang datang dari arah laut pada jaman dahulu. Sampai saat ini berapa bangunan kerajaan Buton masih dapat dilihat. Antara lain; makam para Sultan, Masjid kuno, beberapa bangunan Kerajaan/ Kesultanan , prasasti dll.

Masjid Kuno lengkap dengan tiang bendera dari kayu Jati (Tektona grandis) setinggi 21 m dengan diameter antara 25 sampai dengan 70 cm yang dibuat pada akhir abad ke 17. tiang bendera tersebut digunakan untuk mengibarkan Tombi (bendera) kerajaan Buton yang disebut Longa- Longa.


Batu Prasasti tempat penobatan raja masih ada di kawasan benteng. Batu tersebut digunakan sejak penobatan penguasa kerajaan Buton pertama, seorang wanita berasal dari negeri Cina bernama Ratu Wa Kaa Kaa yang dilantik sekitar abad ke 14, oleh karena itu patung naga yang merupakan salah satu lambang budaya cina yang didirikan di pantai Bau Bau merupakan usaha untuk mengingat pada penguasa pertama kerajaan Buton yang berasal dari negeri Cina disamping itu juga merupakan perlambang kekuatan yang luar biasa.
Dalam perjalanan sejarah pengusaha kerajaan buton bukan lagi ratu atau raja tetapi disebut sultan bentuk pemerintahanpun dari kerajaan berubah menjadi kesultanan. Sultan tidak didasarkan pada garis keturunan atau putra mahkota. Tetapi dipilih secara demokratis.
Lambang resmi kesultanan Buton adalah buah Nanas yang melambangkan kesejahteraan karena Nanas bisa tumbuh pada segala musim. Menurut dosen arsitektur FT UNHALU Ir. Syahrul Ramadhan MT: Buah Nanas melambangkan demokrasi karena tunas- tunas baru yang bermunculan disekitar induk nanas berkesempatan sama untuk menjadi Sultan Buton apabila dipilih secara demokratis.

Dalam areal Benteng juga terdapat banyak makam antara lain makam sultan Murhum Kaimuddin Khalifatul Hamis yang wafat pada tahun 1584, makam sultan Alimuddin atau Oputo Masabuno Yi Wandayilolo yang memerintah kesultanan Buton antara tahun 1788- 1791.

Bangunan milik kesultanan selain di dalam benteng ada pula yang diluar benteng antara lain bangunan bertingkat dengan konstruksi dari kayu merupakan cerminan dari arsitektur tradisional yang representatif. Bangunan tersebut adalah rumah istri kedua dari salah satu sultan Buton yang terletak di kota Bau Bau diluar benteng.

Mengingat keanekaragaman dan keunikan obyek yang ada di lingkungan benteng serta lokasi yang sangat strategis dengan panorama kearah luar benteng yang sangat menawan dan mempesona banyak pengunjung yang datang, baik warga kota Bau bau ataupun pengunjung dari luar daerah bahkan wisatawan dari manca negara. Berdasarkan informasi banyak pula peneliti sejarah dari dalam dan luar negeri yang datang di kawasan benteng Bau Bau. Kekayaan budaya bangsa seperti benteng dan kerajaan dll, patut dilestarikan untuk meningkatkan rasa cinta dan kebanggaan pada tanah air terutama bagi generasi muda sebagai penerus bangsa.

1 komentar:

eman mengatakan...

trimakasi atas artikel kunjungan di kota Bau-Bau. Mungkin ada kekeliruan penulisan " Bolomo karo somanamo Lipu" seharusnya " Bolimo Karo Somanamo Lipu: