Sabtu, 12 Juli 2008

GORONTALO


Naik Bentor Keliling Serambi Madinah

"edited version" telah dimuat di Harian umum SUARA MERDEKA Jawa Tengah edisi Minggu hal 32 pada tgl 5 Austus 2007
oleh:Gagoek Hardiman

Kota Gorontalo atau dalam bahasa setempat disebut “Hulondhalo” ternyata memiliki landsekap yang menarik, terletak di Teluk Tomini, lahan kota terdari dari kawasan datar dan perbukitan, antara bandar udara “Djalaludin” dan kota terdapat danau Limboto. Dari pagi sampai malam jalanan dipenuhi oleh kendaraan khas “Bentor”. Sejarah budaya yang kuat nampak terefleksi antara lain pada bangunan adat, masjid tua, benteng Otanaha.




Budaya Islam yang kuat menyebabkan Gorontalo di sebut Serambi Madinah oleh masyarakat setempat. Sebagai propinsi muda pembangunan nampak sangat gencar antara lain pusat pemerintahan di atas bukit. Sebagai gerbang masuk dari bandara menuju kota Gorontalo kita disambut tugu raksasa yang terletak ditengah perempatan jalan yang mengingatkan kita pada menara “Eifel” di Paris.
Bis sebagai sarana transportasi “Serba Guna”.

Menyusuri jalan Trans Sulawesi dari Tentena, Poso, Parigi Moutong sampai ke Gorontalo, menggunakan bis antar propinsi merupakan sensasi yang sangat menarik sekali. Bis pada jalur Trans Sulawesi tentu lain dengan bis di Jawa, karena selain mengangkut penumpang juga mengangkut barang antara lain sepeda motor pada bagian belakang bis, sekali angkut bisa 4 sepeda motor, pada umumnya sepeda motor baru merk terkenal seperti Tiger, Yupiter, Shogun dsb. bagian atas dipenuhi barang antara lain seperangkat meja kursi tamu lengkap, bagian dalampun juga penuh barang, kadang kadang kaki harus ditekuk keatas karena bagian bawah jok sudah dipenuhi barang..
Sepanjang perjalanan kita bisa menikmati pemandangan kebun coklat, kelapa yang sangat subur. Mulai dari Parigi Moutong provinsi Sulawesi Tengah sampai Tilamuta Provinsi Gorontalo bis melaju menyusuri jalan ditepi pantai teluk Tomini yang indah. Sebelah barat trans Sulawesi nampak panorama bukit dengan hutan alam habitat binatang langka yang hanya terdapat di Sulawesi, antara lain burung Maleo dan Anoa.
Menara “Eifel Gorontalo”.
Perjalanan masuk ke kota Gorontalo dari Provinsi Sulawasi Tengah melalui jalan trans sulawesi akan disambut dengan Menara yang mengingatkan kita pada menara Eifel di Paris. Mungkin obsesi untuk “Go Internasional” menginspirasikan Bupati Gorontalo saat itu Acmad Hoesa Pakaya untuk membangunan menara “Keagungan” pada th 2002 yang oleh sebagaian masyarakat Gorontalo diplesetkan menjadi “Menara Keangkuhan”
Menara tersebut dilengkapi dengan lift untuk turis atau masyarakat yang hendak menikmati pemandangan dari puncak menara. Konsep pembangunan menara tersebut antara lain disewakan sebagai sarana untuk meletakkan jaringan Telepon seluler, Televisi dsb, serta mendapatkan pemasukan dana melalui retribusi dari masyarakat atau turis yang naik menggunakan lift keatas menara. Sebagai Propinsi baru memang Gorontalo harus terus berbenah diri agar dapat menarik minat turis lokal dan mancanegara. Karena asset yang dimiliki oleh Provinsi Gorontalo cukup menjanjikan antara lain, teluk Tomini, benteng Otanaha di tepi danau Limboto. Dengan slogan “Duio ito momongu ipu” yang artinya Mari kita bersama membangun daerah”. Mudah mudahan derap pembangunan Prov Gorontalo akan mencapai hasil sesuai target yang direncanakan.
“Serambi Madinah”.
Berdasarkan UU no 38 th 2001, provinsi Gorontalo terpisah dari Provinsi Sulawesi Utara. Luas wilayah provinsi Gorontalo 12.215,45 km2. Sebagai salah satu provinsi muda, Gorontalo terus berbenah diri salah satu gebrakan yang mencolok adalah pembangunan pusat pemerintahan di daerah perbukitan. Sesuai dengan sebutannya sebagai serambi Medinah maka bangunan pemerintahan yang dibangun antara lain kantor Gubernur dan DPRD, pada bagian atapnya dilengkapi kubah. Seperti pusat pemerintahan Malaysia di Putrajaya, dimana beberapa bangunan di beri atap kubah sbg simbolisasi pemerintahan yang bernuansa Islam.
Pengembangan pusat pemerintahan ini direncanakan oleh arsitek putra daerah Sulawesi Danny Pomanto. Langkah yang diambil cukup berani mengingat daerah untuk pusat pemerintahan ini terletak dibukit yang terjal sehingga memerlukan penataan tanah (site developmnent) yang ekstrim selain itu persis seperti perencanaan kompleks Garuda Wisnu Kencana di Bukit Jimbaran Bali, air bersih harus dinaikkan secara mekanis dari kota bawah. Diwaktu malam pemandangan yang terlihat dari halaman kantor Gubernur mengingatkan kita pada panorama kota bawah Semarang dari bukit tugu Tabanas Gombel atau panorama kota Brisbane Australia dipandang dari atas bukit “mount Kota”, sangat indah sekali baik siang maupun malam hari. Dari lokasi tersebut kita bisa menyaksikan sungai Bone yang membelah kota dan bermuara di Teluk Tomini, dikejauhan nampak pula danau Limboto.
Apabila kita mengenal kota Banda Aceh sebagai “Serambi Mekah”, maka kota Gorontalo oleh masyarakat setempat diberi julukan sebagai “Serambi Madinah”. Hal tersebut kemungkinan didasarkan sejarah Islam yang sangat kuat, sebagaian besar penduduk beragama islam. Saat ini gubernur Gorontalo Fadel Mochamad berasal dari etnis Arab, beliau dinilai masyarakat banyak membawa kemajuan pada propinsi muda Gorontalo. Dapat dikatakan Gorontalo merupakan salah satu provinsi teraman, terdamai di Indonesia kehidupan antar umat beragama kelihatan sangat baik. Selain masjid di kota Gorontalo dapat kita jumpai pula gereja, vihara, klenteng. Angka kriminalitas juga relatif sangat kecil.
Bundaran HI sebagai tetengar (Landmark) pusat kota Gorontalo.
Apabila pada bundaran HI Jakarta ada tugu selamat datang dengan patung lelaki dan wanita mengacungkan rangkaian bunga. Maka di pusat kota Gorontalo juga terdapat bundaran HI atau Hulondhalo Indah, yang juga dilengkapi dengan sejoli yang menyambut kita dengan melambaikan selendang. Hulondhalo adalah sebutan Gorontalo sesuai bahasa setempat. Apabila dicermati disamping patung terdapat 3 tiang lampu yang unik. Seperti untaian permata, ternyata ornamen tiang tersebut merupakan visualisai dari gula aren yang di bungkus daun dan diikat secara berurutan. Ornamen tersebut dinamakan “Pahangga” merupakan salah satu ciri khas kota Gorontalo dipakai sebagai ornamen interior bangunan adat, sebagai umbul-umbul kalau ada keramaian dan juga digunakan sebagai ornamen puncak atap masjid.
Menurut ketua jurusan arsitektur Universitas Negeri Gorontalo, untuk nama daerah dulu pernah direncanakan menggunakan sebutan sesuai bahasa setempat namun karena banyak warga Gorontalo yang berasal dari luar daerah antara lain dari Jawa kurang fasih melafalkan kata “Hulondhalo” maka akhirnya ditentukan sebutan kota adalah Gorontalo.
Bundaran “HI”, dilewati oleh poros utama kota Gorontalo yang menghubungkan kampus Universitas Negeri Gorontalo dan alun-alun didepan rumah dinas Gubernur. Ditengah tengah alun alun berdiri patung Nani Wartabone tokoh pahlawan perjuangan yang pada tanggal 23 januari 1942 telah mengibarkan bendera merah putih dan mengumandangkan lagu Indonesia Raya di Gorontalo.
Gorontalo terbentuk kurang lebih 400 tahun lalu dan merupakan salah satu kota tua di Sulawesi selain Kota Makassar, Pare-pare dan Manado. Gorontalo pada saat itu menjadi salah satu pusat penyebaran agama Islam di Indonesia Timur yaitu dari Ternate, Gorontalo, Bone. Bangunan Ibadah yang representativ di Gorontalo adalah Mesjid Baiturrahim, salah satu mesjid tertua di daerah Gorontalo. Meski mayoritas penduduk Gorontalo beragama Islam iklim kerukunan antar agama terasa sangat kondusif.
Disamping bangunan Ibadah di Gorontalo juga banyak dijumpai bangunan Adat, sesuai catatan sejarah sebelum masa penjajahan keadaaan daerah Gorontalo berbentuk kerajaan-kerajaan yang diatur menurut hukum adat ketatanegaraan Gorontalo. Kerajaan-kerajaan itu tergabung dalam satu ikatan kekeluargaan yang disebut "Pohala'a".
Dahulu apabila keluarga kerajaan mengadakan musyawarah, aktifitas tersebut dilaksanakan di Dulohupa, yaitu bentuk rumah panggung yang terbuat dari papan, dengan bentuk atap spesifik daerah gorontalo. Pada bagian balakang ada ajungan tempat para raja dan kerabat istana untuk beristirahat atau santai sambil melihat kegiatan remaja istana bermain sepak raga, rumah adat dilengkapi dengan taman bunga dan sebuah bangunan garasi bendi kerajaan yang bernama talanggeda.
Saat ini kita masih bisa melihat rumah adat tersebut baik di kabupaten Gorontalo maupun di kota Gorontalo. Pada gerbang bangunan adat kita disambut dengan tulisan “Siladia Dulohupa Lo Ulipu “Hulondhalo” yang artinya: Tempat bermusyawarah untuk urusan Daerah Gorontalo”.
“Jejak Telapak Kaki Leluhur” di Teluk Tomini
Sangatlah lazim apabila terdapat “legenda” yang menarik pada tiap daerah di Indonesia. Percaya, tidak percaya di tepi pantai terdapat bongkahan batu besar menjorok ke tepi jalan. Masyarakat mempercayai bahwa lekukan yang terlihat pada permukaan batu tersebut adalah jejak telapak kaki “Lahilote” nenek moyang orang Gorontalo.
Lansekap kota Gorontalo apabila diamati dari laut nampak sangat khas. Diapit oleh dua bukit dan diantara dua bukit tersebut terlihat kota Gorontalo yang dibelah oleh sungai Bone. Hal yang unik dari kedua buah bukit ini adalah, struktur tanah pada bukit sebelah barat merupakan batu yang keras, sedangkan bukit sebelah timur merupakan tanah biasa.
Penataan kota di pantai sesuai dengan konsep “waterfront City”. Jalan dipinggir pantai merupakan prasarana untuk menikmati pemandangan ke Teluk Tomini. Apabila ditata dengan lebih baik maka kawasan tepi pantai akan dapat berperan seperti “boulevard” di sepanjang tepi pantai Manado. Pada pagi sanpai sore hari dapat kita jumpai aktifitas pelabuhan barang dan penumpang yang memainkan peranan penting dalam segi ekonomi. Pada senja dan malam hari sepanjang pantai terdapat café sebagai tempat berkencan kaum remaja, ada pula remaja putri yang menunggu pria yang memerlukan teman kencan. Café di sepanjang pantai disebut dego- dego.
“Bentor” angkutan khas GORONTALO.
Apabila kita ingin menikmati kota Gorontalo dengan jalan kaki dan sewaktu waktu merasa lelah, maka alternatif yang dapat kita pilih adalah naik bendi berkuda atau naik bentor dengan tarif yang relatif jauh lebih murah dari pada becak di Jawa.
Bentor atau becak motor merupakan kendaraan yang khas Gorontalo. Meskipun di Aceh, Medan, Pematang Siantar dan kota kota lain di Sumatra ada becak motor namun modifikasinya sangat beda. Bentor di Gorontalo dibuat mirip becak penumpangnya tidak disamping tetapi didepan. Tidak perlu diherankan apabila Bentor sebagai angkutan umum sekaligus dapat memuat 5 penumpang, di depan suami istri dengan 2 anak kecil dan di belakang pengemudi masih bisa membonceng seorang pembantu rumah tangga. Tidak jarang pula pada pekerjaan proyek bangunan pengangkutan material bangunan seperti semen, tegel dsb memanfaatkan jasa bentor, karena masih lebih murah dari pada menyewa truk.
Bentor merupakan angkutan kendaraan bermotor untuk umum yang bersifat non formal tidak mendapatkan lisensi dari dinas perhubungan Gorontalo. Namun sudah terlanjur berkembang ratusan atau mungkin sudah beberapa ribu di propinsi Gorontalo. Uniknya tidak semua memiliki Surat Ijin Mengemudi. Dari segi keamanan menurut pakar dari Universitas negeri Gorontalo. Bentor tidak memenuhi persyaratan kendaraan angkutan umum. Karena dengan adanya modifikasi tersebut, rem hanya tinggal untuk roda belakang saja. Namun keberadaan Bentor sudah sangat diterima dan dibutuhkan oleh masyarakat, antara lain untuk angkutan darurat bagi orang sakit atau wanita yang hendak melahirkan menuju Puskesmas, untuk antar jemput anak sekolah, pegawai negeri serta karyawan swasta dsb. Dapat dikatakan karena siang malam bentor nampak hilir mudik di kota dan seluruh bagaian provinsi. Maka selain disebut sebagai “serambi Madinah” sebutan lain untuk kota Gorontalo adalah “kota Bentor”.
Konon apabila ada penertiban Surat Ijin mengemudi untuk Bentor, maka ribuan bentor berdemonstrasi sehingga aparat dinas perhubungan dan polisi lalu lintas kewalahan.
Bentuk fisik dasar bentor sudah ada keseragaman, meskipun belum dipatenkan dan belum jelas siapa penemunya, perbedaaan terdapat pada warna, lukisan serta asesoris. Bahkan banyak yang dilengkapi dengan “sound system” sehingga saat melaju dijalan raya terdengar suara musik yang hingar bingar. Beberapa Bentor bahkan ada yang dilengkapi “sound system” seharga lima juta rupiah lebih. Musik tersebut dibunyikan dengan keras baik saat berjalan maupun saat parkir. Rupanya tingkat toleransi masyarakat terhadap musik dari bentor tersebut sangat tinggi, bahkan masyarakat termasuk penulis justru dapat menikmati, lagu yang diperdengarkan antara lain lagu “ndank ndut’ yang berjudul “Kucing garong”, nampaknya lagu tersebut merupakan salah satu lagu favorit pengendara bentor.
Beberapa bentor yang mengantar mahasiswa dari tempat pondokan ke kampus Universitas Negeri Gorontalo pada bagian atap ada yang dilengkapi tulisan. Fakultas Teknik Universitas negeri Gorontalo dengan moncolok, namun jangan salah terka bentor tersebut bukan milik universitas namun pencantuman tulisan tersebut murni inisiatif pengemudi bentor agar lebih nampak trendi dan keren.
Teknik modifikasi bentor ternyata terus dikembangkan, saat ini ada beberapa yang dilengkapi dengan setir mobil dan pedal rem, gas, kopling seperti layaknya mobil, pada roda depan kiri dan kanan juga ada yang ditambah rem cakram. Pertanyaan yang muncul sampai kapan dinas perhubungan dapat mentolerir status bentor yang nonformal bahkan dapat disebut ilegal apabila dikaitkan dengan undang undang/ peraturan lalu lintas dan keselamatan penumpang bagi kendaraan umum bermotor.
Dapat dikatakan saat ini di Indonesia Bentor hanya ada di wilayah provinsi Gorontalo. Namun beberapa daerah di luar Gorontalo sudah memesan puluhan box bentor dari Gorontalo, hanya saja belum dapat dioperasikan, karena terkendala masalah perijinan. Sebagai contoh untuk seluruh wilayah propinsi Sulawesi Utara. Meskipun berbatasan langsung dengan propinsi Gorontalo, tidak ada satu bentorpun yang nampak di jalanan. karena Dinas perhubungan propinsi Sulawesi Utara sangat tegas dalam menerapkan larangan Bentor sebagai kendaraan bermotor untuk umum. Apabila aparat dari dinas Perhubungan atau polisi lalu lintas memergoki ada seseorang yang mencoba mengendarai bentor maka box depan (tempat penumpang) langsung dilepas dan dibuang kelaut.
Disamping bentor kendaraan umum tradisonal yakni kereta kuda, yang sebelum era bentor merupakan angkutan utama dalam dan antar kota, masih banyak dijumpai di kota Gorontalo maupun diluar kota. Merupakan pemandangan biasa saat ini kalau kita melihat tempat parkir bentor menyatu dengan parkir kereta kuda atau bendi. Terutama di kawasan perdagangan.
Benteng OTANAHA di dekat danau Limboto sbg pertahanan suku atas dari serangan suku bawah.
Tidak jauh dari kota Gorontalo terdapat danau Limboto. Saat jalan darat masih belum memadai, apabila presiden Sukarno mengadakan kunjungan ke Gorontalo selalu menggunakan pesawat amphibi yang mendarat di danau Limboto. Sampai saat ini pesanggarahan di samping danau yang merupakan tempat transit presiden Soekarno presiden pertama RI dilestarikan dan dirawat dengan baik sebagai museum. Di dalam museum tsb perabotan asli tetap dipertahankan disamping itu terdapat foto-foto dan koleksi buku presiden Soekarno. Selain keindahannya Danau Limboto juga merupakan habitat ikan air tawar, sebagai salah satu sumber mata pencaharian masyarakat, dibeberapa tempat ditepi danau banyak terlihat keramba.
Disebelah selatan Danau limboto terdapat bukit, diatasnya terdapat 3 buah benteng, lokasi benteng tersebut ditinjau dari segi topografi sangatlah strategis. Sehingga banyak dikunjungi masyarakat lokal maupun luar daerah. Untuk mencapai benteng tersebut dari kaki bukit dapat melalui tangga yang disebut tangga 2000. Tentu saja jumlah tangga tidak persis 2000 namun angka tersebut menunjukkan betapa banyaknya anak tangga yang harus dilewati untuk mendaki bukit sampai ke lokasi benteng. Namun pengunjung juga dapat menggunakan kendaraan roda dua atau roda empat melewati jalan curam yang berkelok kelok sampai kepelataran parkir di atas bukit. Menurut arsitek yang melaksanakan disain tata bangunan dan lingkungan benteng Otanala Ir Harley Rizal Lihawa MT. Benteng yang sekarang ada memang dibangun oleh Portugis. Namun berdasarkan penelitian ditemukan pondasi benteng yang merupakan benda kuno. Sehingga berdasarkan oleh ahli purbakala disimpulkan bahwa sebelum Portugis datang, pada lokasi benteng pernah dibangunan semacam benteng yang digunakan oleh suku atas yang tinggal di perbukitan untuk menghalau suku bawah yang berasal dari sekitar danau limboto. Sahih atau tidaknya pernyataan tersebut semakin menambah daya tarik Benteng Otanala. Dari benteng yang terletak di atas bukit tersebut dapat dinikmati panorama danau limboto yang indah dan di kejauhan nampak pula kota Gorontalo.
Wisata Teluk Tomini
Untuk wisatawan lokal maupun mancanegara yang berkocek tebal, obyek wisata laut eksklusif di Teluk Tomini terdapat di kepulauan Togian merupakan salah satu pilihan sebagai obyek tujuan wisata, obyek tersebut dilengkapi dengan fasilitas diving, spa dsb, mirip dengan obyek wisata laut Bunaken di provinsi Sulawesi Utara. Secara administratif kepulauan Togian terletak di provinsi Sulawesi Tengah tetapi pencapaian dari Palu ibu kota provinsi Selawesi Tengah justru melewati route yang panjang dan relativ lama. Pencapaian dari kota Gorontalo dengan Kapal/ boat justru lebih mudah, cepat dan praktis. Untuk menikmati obyek wisata laut tersebut wisatawan dapat pula memilih hotel di kota Gorontalo sebagai “base camp”. Karena sejak Gorontalo menjadi propinsi tersendiri, pembangunan hotelpun berkembang pesat, saat ini sudah ada hotel Quality berbintang 3 dikota Gorontalo.
Etnis Jaton.
Mereka merupakan keturunan masyarakat Jawa yang dibuang oleh Belanda ke Sulawesi bersamaan dengan pengasingan Pangeran Diponegoro. Disebut Jaton atau Jawa Tondano, karena pada awalnya masyarakat Jawa tersebut dikirim ke Tondano dan menikah dengan masyarakat setempat, kemudian menyebar sampai ke Gorontalo. Kehidupan Etnis Jaton ini pada umumnya sangat makmur dengan mata pencaharian utama dari perkebunan Coklat dan Kelapa. Bahasanyapun sudah merupakan bahasa campuran antara bahasa Jawa dan bahasa Tondano, sehingga apabila mereka menggunakan “dialek Jaton” orang Jawa tidak dapat memahami demikian pula sulit dimengerti oleh masyarakat Tondano. Kesuksesan mereka tercermin dari kondisi rumah yang pada umumnya memiliki beberapa sepeda motor baru dan mobil serta memiliki tanah atau kebun yang cukup luas.
Perkampungan Jaton di desa Reksonegoro kecamatan Tibawa kabupaten Gorontalo mudah dikunjungi karena lokasi terletak dekat dengan bandara Djalaludin.
Bagi para turis yang mengunjugi Gorontalo ada beberapa tradisi etnis Jaton yang cukup menarik untuk disaksikan, antara lain balap kereta sapi. Hampir mirip dengan kerapan sapi madura. Tetapi kalau karapan sapi madura tanpa kereta dan tanpa roda . Balap sapi Jaton dilengkapi dengan kereta kecil dan roda ditarik oleh dua sapi. Balap kereta sapi ini masih terbatas pelaksanaannya hanya 1 kali setiap tahun, yakni pada waktu lebaran ketupat tujuh hari setelah lebaran 1 syawal.
Tentu saja disamping obyek wisata yang telah diuraikan masih ada pula sensasi atau pesona yang lain di daerah Gorontalo. Bagi pembaca yang suatu saat mungkin berkunjung ke Gorontalo akan dapat melakukan eksplorasi potensi wisata, sesuai dengan selera dan motivasi kunjungan, yang pasti akan dapat menambah dan memperluas wawasan Nusantara.
Menikmati lezatnya Binte Biluhuta dan ikan Payangga.
Disamping kondisi alam dan lingkungan yang menarik. Ternyata Povinsi Gorontalo memiliki potensi kerajinan tradisional dan makanan khas. Kerajinan Bordir yang sebelumnya merupakan industri yang erat kaitannya dengan kota Manado, ternyata pusat produksinya banyak terdapat di Gorontalo. Demikian pula makanan khas dari sagu yang disebut Bagea banyak diproduksi di Gorontalo. Karena kota Gorontalo terletak di tepi teluk Tomini dan dekat dengan danau air tawar maka sekaligus terdapat banyak rumah makan ikan laut dan ikan air tawar. Selain itu terdapat berbagai makanan khas seperti “Binte Biluhuta” sup jagung yang di campur dengan parutan kelapa muda, ikan tuna dan irisan jantung pisang, dapat dimakan dengan sambal “dabu-dabu” yang terbuat dari air dicampur minyak kelapa irisan tomat, cabe dan bawang merah rasanya sedap sekali. Belum lengkap rasanya apabila kita di Gorontalo tidak mencicipi “Binte Biluhuta” yang merupakan makanan kebanggaan masyarakat Gorontalo. Hanya saja perlu diketahui masyarakat Gorontalo sangat menggemari makan yang serba pedas.
Mengingat kota Gorontalo berada di tepi teluk Tomoni, maka tempat makan yang menawarkan masakan ikan laut terdapat hampir di setiap sudut kota. Bahkan di dalam kampuspun misal di “Tumbango Café” kampus Arsitektur Fak. Teknik Univ. Negeri Gorontalo, adalah pemandangan biasa apabila kita melihat mahasiswa memesan nasi putih dengan ikan bakar sebagai menu makan siang. Selain ikan laut dapat pula kita nikmati aneka makanan dengan bahan dasar ikan air tawar yang berasal dari danau Limboto, antara lain Mujair, Nila, Payangga, diolah dengan berbagai cara antara lain goreng, bakar atau pepes. Kita bisa menikmati aneka masakan ikan air tawar di rumah makan yang sangat representatif dengan disain kreatif dan artistik, yang dibangunan menggunakan bahan dari kayu, bambu dengan atap rumbia. Nama tempat makan tersebut “Miranti” terletak di kawasan Kabila.
Apabila di kota Solo Jawa Tengah kita dapat mencari kedai makan dan minum sampai 24 jam. Ternyata di Gorontalo juga demikian di tengah malam atau di pagi buta kita juga dapat menikmati berbagai makanan di “Pasar Jajan”. Tempat makan di pasar tersebut dilengkapi dengan konstruksi beratap dengan sistem ruang terbuka terletak di Kampung Cina. Disini terdapat banyak kios yang menawarkan berbagai makanan dan minuman khas Gorontalo.
Tempat minum kopi dan teh yang khas dan sangat terkenal di kota Gorontalo bernama “Kedai Bersehati” terletak di kawasan ”pasar Keramat”. Biasanya pelanggan di kedai tersebut berbincang bincang dengan pokok pembicaraan tentang politik, pembangunan, kebijaksanaan pemerintahan propinsi dan kota Gorontalo dll. Para pelanggan kedai ini terdiri dari berbagai lapisan tokoh masyarakat, mulai dari tokoh tingkat RT sampai dengan tokoh partai politik, LSM dan anggota Dewan. Oleh karena itu kedai tersebut diberi julukan yang sangat menarik yakni DPRD tingkat 3. Lepas dari masalahah julukan tersebut, merupakan kenikmatan khusus apabila kita sempat mencicipi aneka minuman dan jajanan yang disajikan dan memperhatikan iklim demokrasi yang santai dari diskusi antar pelanggan tersebut.
“Bageak” kue khas Indonesia bagian timur yang terbuat dari Sagu dengan dicampur gula Aren serta media lain misal kenari. Ternyata juga banyak diproduksi di Gorontalo sebagai industri rumah tangga. Bageak sangat layak untuk oleh oleh.
Di pusat perdagangan tradisional kota Gorontalo kita dapat mendapatkan oleh oleh makanan khas Gorontalo. Apabila tidak ada waktu kita bisa dapatkan di kios yang terdapat di bandara.
Nasi kuning khas Gorontalo dengan lauk ikan air tawar kecil kecil dari danau limboto yang disebut ikan Payangga rasanya sangat enak dan gurih biasanya dicampur sambal tomat, dapat kita nikmati di warung yang berlokasi dipelataran bandara Djalaludin.
Setelah jalan jalan di beberapa kota Palu, Poso, Tentena, Parigi Moutong dan Gorontalo, akhirnya penulis meninggalkan Pulau Sulawesi dari Bandara Djalaludin Gorontalo dengan menyimpan kenangan yang indah dan harapan semoga suasana damai dan aman dari provinsi Gorontalo dapat mewarnai seluruh provinsi di NKRI.
Dr.Ing.Ir. Gagoek Hardiman
Dosen Arsitektur Fak Teknik UNDIP.

3 komentar:

jemmy mengatakan...

excellent pak artikel-artikelnya.
Terima kasih atas kunjungannya di Propinsi Gorontalo.
Semoga tuhan melimpahkan rahmat dan kesehatan kpd bpk sehingga tetap berkarya dalam mengungkap rahasia-rahasia alam di negeri archipelago ini

Sigit mengatakan...

Hebat artikelnya!
Saya sampe ketawa-ketawa sendiri membacanya.
Kebetulan saya menghabiskan masa kecil saya di Gorontalo. Jadi membaca tulisan anda membuat saya berangan-angan tentang masa kecil saya, yang sepertinya sudah jauh berbeda sekali dengan kondisi Gorontalo sekarang.
Seperti patung "Pak Nani" yang anda sebut ditengah alun-alun, dulunya waktu pertama kali dibangun seingat saya patung itu berada disamping jalan raya, di seberang kantor polisi.

Terima kasih telah berbagi pengalaman anda :)

budisusilo mengatakan...

Semoga Gorontalo menjadi provinsi termaju, menjadi daerah yang sukses akan hasil buah dari reformasi yang menjunjung tinggi semangat otonomi daerah. Spirit Indonesia Baru, Gorontalo Indoensia kita,