Rabu, 04 Februari 2009

MEKAH & MADINAH


MENIKMATI FENOMENA ALAM DAN BUDAYA DISEKITAR MEKAH DAN MADINAH
("edited version" telah dimuat di harian umum Suara Merdeka edisi Minggu tgl 1 Februari 2009 hal 31).
Oleh:Gagoek Hardiman

Mekah dan Madinah merupakan persinggahan utama bagi jamaah haji Indonesia selama menunaikan ibadah haji. Karena kesempatan berkunjung ke tanah suci belum tentu dapat terulang kembali sepanjang hayat. Maka selain ibadah Wajib ataupun Sunah, sebagaian jemaah haji Indonesia yang jumlahnya paling banyak dibanding dari negara–negara lain, memanfaatkan pula kesempatan tersebut untuk mengenal dan mensyukuri nikmat Allah, berupa kondisi lingkungan alam, flora, fauna dan budaya setempat.



Mengingat hampir semua jemaah haji Indonesia melaksanakan ibadah haji dengan sistem Tamattu yang dalam bahasa Indonesia artinya “bersenang senang”, maka dibanding dengan sistem haji Ifrad dan haji Qiron waktu untuk melaksanakan kegiatan lain disamping ibadah wajib dan Sunah cukup banyak. Obyek obyek di luar kota Mekkah dan Madinah yang sangat layak untuk dikunjungi untuk memperluas wawasan dan menambah pengalaman, dapat dibagi dalam 3 kategori. Kategori pertama adalah bangunan ibadah, antara lain: masjid, Tan’im, Ji’ronah, Hudaibiyah, Qiblatain, Quba dsb. Kategori ketiga adalah kawasan bersejarah, antara lain: Gua Hiro’, Jabal Rachma, Jabal Nur dsb. Kategori ketiga adalah kawasan/bangunan umum, antara lain: Peternakan Onta, Kebun Korma, Medan Magnet, Museum Al Qur’an, Tempat Pemotongan Hewan, Industri pengolahan korma dsb.


Dalam tulisan ini hanya akan diuraikan obyek kunjungan ke kawasan/ bangunan umum, karena bangunan ibadah dan tempat bersejarah sudah sering di informasikan. Mengingat lokasi obyek-obyek tersebut tidak jauh dari Mekah dan Madinah, agar tidak mengurangi intensitas dan kekhusukan aktivitas ibadah di Masjidil Haram dan Masjid Nabawi, kunjungan biasanya dilakukan antara sholat Subuh dan sholat Dhuhur. Harus pula diperhatikan apabila kondisi kesehatan tidak memungkinkan sebaiknya tidak perlu mengikuti program-program ekstra di luar program ibadah haji yang resmi.

Karakteristik alam di sekitar Mekah dan Madinah didominasi oleh bukit batu dan padang pasir. Apabila kita perhatikan kondisi alam ini merupakan kekhasan alam yang sangat berbeda dengan alam Indonesia, hingga sangat layak untuk dinikmati. keaneka ragaman kondisi alam di bumi ini merupakan kebesaran Allah yang layak dinikmati dan disyukuri. Tidaklah lengkap mengunjungi padang pasir tanpa menyaksikan peternakan onta dan Medan magnit. Disamping onta, pohon korma merupakan vegetasi khas padang pasir sehingga sangat layak pula untuk dikunjungi.


MEDAN MAGNIT
Berkat kebesaran Allah maka saujana atau lansekap di dunia ini sangat beragam dan sangat layak untuk kita syukuri, antara lain panorama bukit batu dan padang pasir serta flora dan fauna khas Arab Saudi di area medan magnit dekat Madinah yang tentu saja tidak akan dijumpai di Indonesia.
Panorama di Kawasan medan magnit merupakan salah satu obyek alam yang sangat menarik. Langit nampak biru, indah dan jernih karena nyaris tidak ada awan. Warna biru langit terlihat harmonis dan serasi berpadu dengan warna coklat kemerah-merahan padang pasir dan bukit batu. Pada beberapa tempat terdapat tanaman khas padang pasir yang penuh dengan duri tajam. Keindahan alam khas saudi Arabia ini dilengkapi dengan adanya medan magnet yang sangat mengundang keingintahuan banyak pengunjung. Hingga tak heran banyak jemaah haji dari berbagai negara datang dengan bis besar. Di tempat tertentu di sekitar pusat magnet. Sopir akan memperagakan efek medan magnit tersebut. Mesin bis dimatikan namun apa yang terjadi, bis tetap berjalan karena pengaruh tarikan medan magnit, walau jalan agak menanjak.
Setelah itu bis-bis diparkir di suatu tempat yang lapang, penumpang bis turun untuk menikmati keindahan panorama alam sekitar dengan leluasa. Banyaknya pengunjung di tempat ini rupanya merupakan peluang bisnis bagi pengusaha setempat. Mereka menyewakan ”Buggy” mobil kecil yang dapat dikendarai satu orang dewasa saja, dengan lincahnya mobil kecil tersebut dapat menjelajahi padang pasir disekitar tempat pemberhentian bis. Bagi pengunjung yang ingin berkemah sambil menikmati bekal disediakan tenda di padang pasir dengan kapasitas untuk sekitar lima orang. Bagaimana tentang kebersihan, mengingat banyaknya jemaah haji yang mengunjungi tempat ini tentu akan banyak kotak minuman kemasan plastik, bungkus makanan yang dibuang di sembarang tempat. Untuk mengantisipasi hal tersebut sudah ada petugas kebersihan yang membawa kantong plastik dan alat penjepit keliling kawasan ini untuk memunguti sampah-sampah yang ditinggalkan oleh pengunjung, mirip aktivitas pemulung di Indonesia. Namun mereka nampak sigap dan gagah dengan mengenakan seragam serba hijau, pada umumnya pekerja tersebut berasal dari Pakistan dan Bangladesh. Sehingga kawasan ini selalu nampak bersih.


PETERNAKAN ONTA

Di tengah suasana yang kering dan panas, kebesaran Allah antara lain nampak dengan adanya onta, hewan yang bisa beradaptasi dengan sempurna terhadap kondisi alam tersebut. Daya tahan onta terhadap iklim yang ekstrim di padang pasir, sangat berguna untuk sarana transportasi manusia pada zaman dahulu, namun saat ini lebih cenderung untuk keperluan konsumsi baik susu maupun dagingnya. Kunjungan ke peternakan onta merupakan sensasi tersendiri dalam rangka mengenal karakter lingkungan disekitar Mekah. Peternakan onta terletak di tempat terbuka nyaris tidak ada bangunan beratap pada lingkungan tersebut, sejauh mata memandang hanya nampak hamparan padang pasir dengan latar belakang gunung batu. Karena onta sangat tahan terhadap panas terik matahari. Pekerja peternakanpun ternyata sudah menyesuaikan dengan kondisi alam padang pasir, mereka bekerja langsung dibawah terik matahari. Pekerja di peternakan ini hampir semuanya berkulit hitam, mungkin karena sepanjang hari terkena radiasi matahari dengan intensitas yang cukup tinggi.
Mengingat hampir tidak terlihat adanya tanaman di padang pasir yang dapat dikonsumsi oleh onta. Maka makanan onta berupa rumput kering, di import dari negara tetangga, minuman untuk onta didatangkan dengan menggunakan mobil tangki dari hasil penyulingan air laut.

Onta dipelihara secara kelompok, terdiri dari onta dewasa dan anak-anaknya. Hampir semua pengunjung memanfaatkan kelompok onta sebagai latar belakang saat berpose di depan kamera. Peternak menawarkan susu onta yang langsung diperah di peternakan tersebut, kepada pengunjung. Setiap ada bis yang datang mereka langsung menghampiri dan menawarkan dalam bahasa Indonesia: ”dua, lima real”, yang dimaksud adalah paket yang terdiri 2 botol kecil susu dijual dengan harga 5 real. Cara menawarkan dagangan tersebut mengingatkan saya pada pedagang asongan di Indonesia. Susu onta tersebut dapat langsung diminum rasanya segar dan bergizi, sangat menggoda selera, karena di bawah panas terik matahari tenggorokan terasa kering sehingga kita merasa haus. Hanya saja bagi mereka yang sistem pencernaannya agak bermasalah perlu hati hati dalam mengkonsumsi susu onta segar, karena ada teman yang mengalami gangguan pencernaan setelah menikmati susu onta segar tersebut.





TEMPAT PEMOTONGAN HEWAN



Setelah mengunjungi peternakan onta, mungkin muncul pertanyaan, apakah selain diambil susunya daging onta tersebut juga layak dikonsumsi sebagai bahan makanan. Benar, daging onta merupakan menu masyarakat Arab disamping daging kambing, ayam dsb. Sehingga banyak jemaah haji yang memprogramkan kunjungan ke tempat pemotongan hewan di dekat kota Mekah.

Sesuai ketentuan, bagi calon haji yang melaksanakan ibadah dengan sistem tamattu diharuskan membayar dam atau denda berupa hewan korban. Dengan demikian sepanjang musim haji frekuensi aktifitas pemotongan hewan sangat meningkat, karena sebagaian besar jemaah melaksanakan haji tamattu. Di sekitar tempat pemotongan tersebut terdapat semacam pasar tempat penjualan berbagai jenis hewan korban yakni kambing dan onta.

Perjalanan menuju lokasi pemotongan hewan melalui jalan yang lebar dan halus diantara bukit-bukit batu penuh pesona dan menawan hati. Udara selama perjalanan terasa sejuk dan segar karena bis yang digunakan full AC, saya bayangkan apabila menggunakan kendaraan non AC pasti akan terasa panas. Sesampai di tepat pemotongan hewan nampak banyak petugas berseragam warna merah, dari pakaian, sabuk sampai sorban semuanya serba merah menyala, diperlengkapi dengan golok. Hampir semuanya berkulit hitam, tampilan mereka nampak seram atau ”Sangar”, sangat sesuai dengan pekerjaannya sebagai ”jagal” binatang. Namun wajah-wajah yang sangar atau seram ini rupanya hanya tampak dari luarnya saja. Mereka merupakan penganut islam yang baik, buktinya begitu dikumandangkan azan sholat, mereka langsung membentuk kelompok dan segera melaksanakan sholat berjamaah di sembarang tempat. Jalur jalan pun digunakan untuk tempat sholat berjamaah, dengan tetap memakai seragam kerja yang serba merah tersebut, pisau dan golok diletakkan disampingnya.
Sesuai dengan hukum Islam maka penyembelihan hewan dilakukan secara manual. Seragam petugas pemotongan hewan yang serba merah tersebut dimaksudkan agar pakaian atau sorban yang terkena percikan darah tidak terlihat kotor. Apabila tiba waktu makan siang, ibarat pepatah melayu ”lain ladang lain belalang, lain lubuk lain ikannya”, di tempat pemotongan hewan ini kita bisa menyaksikan bagaimana cara mereka makan siang bersama yang sangat berbeda dengan cara makan masyarakat Melayu. Nasi dicampur dengan daging yang mirip dengan gulai atau rendang, diletakkan di nampan besar di atas tanah, dikelilingi beberapa orang. Dengan jari-jari tangan mereka beramai ramai makan dari satu nampan secara lesehan, gelas untuk minumpun hanya satu digunakan bersama-sama. Sungguh suatu kebersamaan yang sangat akrab. Salah satu rekan jemaah haji kami juga ada yang ingin merasakan suasana tersebut, dengan ramah mereka mempersilahkan untuk bergabung menikmati nasi daging. Dinilai dari lahapnya mereka menghabiskan makanan, dapat disimpulkan menu tersebut tentu sangat lezat dan nikmat sekali.




KEBUN KORMA

Masyarakat Indonesia sudah sangat familier dengan buah korma. Seperti yang telah kita ketahui meskipun pohon korma dapat tumbuh di Indonesia tetapi tidak dapat berbuah, kalaupun berbuah, kecil kecil dan hanya sedikit. Karena tanaman tersebut hanya cocok dengan kondisi alam tropis kering, dengan tanah berpasir serta memerlukan proses fotosintesa yang maksimal agar dapat menghasilkan buah yang lebat. Negara penghasil korma antara lain, beberapa negara di Timur Tengah dan daerah padang pasir di Amerika. Selagi berada di Arab Saudi, sangatlah tepat apabila kita menyempatkan diri untuk menengok perkebunan korma. Di dekat Madinah, jemaah haji Indonesia bisa mengunjungi perkebunan korma, suasananya hampir mirip perkebunan kelapa sawit di Sumatera. Meskipun korma adalah tanaman padang pasir namun tidak dapat hidup subur di sembarang tempat, perkebunan korma biasanya terdapat di dekat sumber air ”Oase”, atau di perkebunan dengan pengairan buatan, dengan menggunakan jaringan instalasi pipa air untuk mengairi pohon korma secara periodik.

Korma pada umumnya setelah dipetik diproses dahulu dengan berbagai cara sebelum dikonsumsi. Namun ada pula yang menjual korma segar yang belum diolah, biasanya saat menjual diberi es agar tidak cepat rusak. Rasanya sungguh manis, segar dan alami ada yang kulitnya berwarna kuning, merah atau coklat tergantung jenis kormanya. Sayang korma segar tidak dapat dibawa ke Indonesia sebagai buah tangan karena tidak tahan lama. Buah korma muda yang masih kecil-kecil berwarna hijau banyak ditawarkan pada jemaah haji, konon untuk penyubur kandungan bagi pasangan yang belum dikaruniai keturunan. Banyak jemaah haji Indonesia membeli korma hijau yang masih melekat ditangkainya tersebut, untuk oleh-oleh bagi kerabat atau kenalan yang mungkin memerlukannya sebagai penyubur.



INDUSTRI PENGOLAHAN KORMA

Setelah mengunjungi kebun korma biasanya jemaah haji Indonesia mendapat kesempatan untuk mengunjungi pusat pengolahan makanan dengan bahan baku korma. Tidak semua jemaah haji bersedia mengikuti kunjungan ke obyek-obyek yang bukan merupakan tempat Ibadah. Namun banyak pula yang memanfaatkan tawaran tersebut, untuk memperluas wawasan dan menambah pengetahuan, dengan catatan sepanjang tidak mengganggu jadwal ibadah wajib dan Sunah
Dengan adanya perkembangan teknologi pengolahan pangan, sistem pengolahan kormapun mengalami perkembangan. Korma selain dikeringkan, juga diolah dengan campuran coklat, madu, almond, kenari dan sebagainya, sehingga dihasilkan komposisi dan cita rasa yang bervariasi, dengan kemasan warna warni yang sangat memikat. Kunjungan ke pusat industri korma tentu merupakan kesempatan baik guna membeli oleh-oleh untuk kerabat dan teman di tanah air. Bagi yang tidak berminat membeli dapat sekedar mencicipi beberapa butir, karena sesuai kebiasan di Arab saudi, pengunjung bebas mencicipi korma dan hasil olahannya. Sehingga kalau kita berkeliling dari satu meja ke meja lainnya, mencicipi sampai 20 macam produk korma, tentu sudah merasa kenyang tanpa mengeluarkan satu keping real pun. Kebebasan untuk mencicipi secara gratis berlaku pula di toko-toko atau di supermarket swalayan modern Bin Dawood yang terletak persis di samping masjidil Haram Mekah dan masjid Nabawi Madinah hanya terpisahkan oleh plaza tempat perluasan sholat. Korma yang paling diminati jemaah haji Indonesia adalah korma Ajwa atau korma Nabi, karena merupakan korma kesukaan Nabi Mochamad hingga diyakini mengandung berbagai khasiat, harganyapun lebih mahal dari jenis-jenis lain.

Apabila saat di Mekah dan Madinah belum sempat membeli korma, jamaah haji masih dapat memborong berbagai jenis korma di Balad pusat perbelanjaan terkenal di kota Jedah yang merupakan tempat terakhir bagi jemaah haji Indonesia untuk menghabiskan sisa uang Realnya, sebelum naik pesawat pulang ke kampung halaman masing-masing di Indonesia.


B. ARTIKEL PENDAMPING.

MUSEUM ARSITEKTUR DUA MASJID SUCI DAN PERCETAKAN AL QURAN

Waktu tinggal di Arab saudi selama 40 hari untuk haji reguler, terutama harus dimanfaatkan untuk ibadah haji resmi semaksimal mungkin mulai dari umroh wajib, umroh sunah, wukuf di padang arofah, mabit di Musdalifah, lempar Jumroh di Mina, tawaf ifadah dan Sa’i serta towaf wadha di Mekah. Disamping itu di masjid Nabawi Madinah melaksanakan ibadah sholat sunnah Arbain dan sholat di Raudoh. Namun bagi yang berminat untuk menambah pengetahuan mengenai budaya disekitar kota Mekah dan Madinah waktu 40 hari tersebut masih cukup untuk mengikuti program program yang sudah tercakup dalam paket ongkos naik haji yang dikoordinasikan oleh Penyelenggara haji resmi dari Pemerintah Indonesia serta tawaran program khusus berdasarkan inisiatif kelompok masing masing.
Maka selama 40 hari di Mekah madinah dan Jedah selain menunaikan ibadah wajib dan sunah juga dapat mengunjungi berbagai obyek penting yang berkaitan dengan agama Islam, Antara lain Tempat percetakan Al Quran dan Museum. Saat kita tinggal di maktab atau pondokan di Mekkah dapat mengunjungi Museum dua masjid Suci, sesuai yang tertera di dinding bangunan yang megah dengan arsitektur khas timur tengah: “Museum of the two holly Mosques Architectures”. Lingkungan di sekitar museum adalah padang pasir bukit batu sebagaimana umumnya saujana atau landsekap di Arab Saudi, namun halaman di sekitar museum ini sangat hijau disamping pohon korma terdapat pula tanaman dari daerah tropis lembab. Antara lain pohon kamboja, bunga merak, bunga tapak doro dan sebagainya.
Di dalam museum terdapat foto-foto perkembangan masjidil Haram maupun masjid Nabawi secara lengkap dari masa ke masa melalui foto-foto raksaksa dan maket atau miniatur masjid. Disamping itu dipamerkan benda benda yang pernah digunakan sebagai perlengkapan kedua masjid suci tersebut yang sudah tidak terpakai karena sudah diganti dengan yang baru. Misal bingkai Hajar Aswad, kunci Ka’bah, pintu kabah, kain penutup Ka’bah, mimbar tempat khotbah, penutup makom Ibrahim, perlengkapan sumur Zam Zam dan sebagainya. Agar benar benar dapat mengamati dan mempelajari dengan seksama materi pameran tentu saja diperlukan waktu paling tidak seharian penuh. Namun sayang waktu kunjungan terasa sangat singkat. Manfaat dari kunjungan ke musem dua masjid suci ini tentu sangat positif untuk jemaah haji, karena akan dapat lebih memahami sejarah dan informasi penting yang berhubungan dengan kedua masjid suci yang menjadi obyek kunjungan utama dalam beribadah haji.


Dari “Basecamp” atau Maktab di Madinah kita bisa mengunjungi tempat percetakan dan penjualan Al Qur’an. Pada tempat ini kita dapat menyaksikan bagaimana proses pencetakaan Al Qur’an dalam berbagai ukuran, dilengkapi terjemahan hampir dalam semua bahasa resmi negara-negara di seluruh Dunia, antara lain bahasa Rusia, Cina, Korea, Jepang, Spanyol tentu saja juga dalam bahasa Indonesia dan sebagainya. Taman di halaman percetakaan Al Qur’an sunggah menakjubkan, mengingatkan kita pada taman-taman di kawasan wisata Nusa Dua Bali, indah dan menarik. Seakan kita tidak sadar kalau sedang berada di tengah padang pasir dan bukit batu.
Tentu saja di lokasi percetakan Al Qur’an, terdapat pula tempat penjualan. Pengunjung dapat memilih Al Qur’an dalam berbagai ukuran dan terjemahan dalam berbagai bahasa. Karena pada saat musim haji banyak pengunjung yang datang, sedangkan waktu kunjungan sangat terbatas. Sehingga meskipun seseorang memiliki uang Real berlimpah, tidak selalu dijamin mendapat kesempatan untuk membeli. Karena ruang penjualan dipenuhi pengunjung dari berbagai negara, cara membelinya pun tidak dengan sistem antrean yang rapi dan teratur, tetapi sistem “siapa cepat dan kuat dia dapat”. Apabila enggan berebut atau berdesak desakkan untuk membeli Al’Quran dengan harga relatif murah di tempat percetakan ini. Jemaah Haji bisa membeli di berbagai toko atau bahkan kadang-kadang di kaki lima baik di Mekah, Madinah maupun di Jedah dengan harga yang bervariasi tergantung kepandaian menawar. Namun tidak perlu khawatir, karena setiap jemaah haji akan mendapat secara gratis atau cuma-cuma, satu Al Quran lengkap dengan terjemahan dalam bahasa Indonesia, dengan kualitas cetakan dan penjilidan yang sangat prima, atau bisa dikatakan edisi Lux di Bandara internasional King Abdul Aziz Jedah saat kepulangan ke tanah air.

1 komentar:

ayud mengatakan...

Ibadah haji bagi orang islam adalah suatu angan, semua menginginkan untuk datang memenuhi panggilan Allah ke tempat-tempat penuh sejarah Islam. Tetapi tidak semua orang bisa, maka beruntunglah bagi orang-orang yang mendapatkan kesempatan untuk itu.
Amien.....